Monday, March 01, 2010

Why Indonesian Directors made Comedy (or should I say "SEX"?) - Horror Movies

Pulang sekolah dlm keadaan pusing. Baru aja menghadapi ujian semester II. Rencananya nyampe rumah mau langsung tidur tapi nyatanya..
aku malah buka-buka internet.

Jeng Jeng Jeng!

and I end up reading some news. Judulnya sangat menarik :
Mengapa Film Komedi Horor Kian Menjamur? Simak Pengakuan Salah Seorang Sutradara

Pertanyaan itu memang selalu muncul di benak tiap kali ada film horor baru nongol di Indonesia.
Secara gitu judul-judulnya tidak jelas kyk "Suster Keramas", "Hantu Puncak Datang Bulan", "Raped by Saitan" ("Diperkosa Setan"... -WTF!?). I mean seriously, Hello? Emang ga ada hal yang lebih menarik untuk diceritakan ya? Emangnya lingkungan Indonesia ini cuma seputar setan dan setan setan dan setan dan bokep!? (Oh yeaaah, hampir smua horor indonesia ada unsur seksnya..)

But anyway, mari bicarakan sutradara nya saja. Jadi dari yang aku baca sutradara ini sengaja bikin film2 kayak gini supaya hasil karya nya membuahkan keuntungan, bukan hanya balik modal saja. Dikatakan di sini film "Suster Keramas" yang dibuatnya berhasil meraup 800rb penonton.

Like duh! Siapa yg ga penasaran ama judulnya? Suster.. Keramas? Ga cukup ya satu suster yang suka ngesot di lorong rumah sakit? Dan kenapa harus suster? Kenapa ga profesi lain kayak Kuli Keramas, Tukang Ojek Keramas, Polisi Keramas, Dokter Keramas... Kenapa SUSTER?? Are they (kuli, tukang ojek, polisi, dokter) not sexy enough to be in some sexy-horror movie?

OK, kembali ke sutradaranya. Sebelumnya dia pernah membawa proposal "Perang Paderi", yg mmbutuhkan budget sekitar Rp 20 Milyar. But he change his mind, "Kapan bisa balik biayanya? Begitulah, menyatukan antara kreatif dengan bisnis ternyata adalah hal yang sulit," begitu kata Helfi.

Well, kalau memang film nya berguna ga ada salahnya. It's a history right? Namanya orang kreatif, harus mengambil resiko! Tapi emng sih, susah mau ngeluarin film-film bermutu (dalam segi teknologi) di Indonesia. So many crisis going on.

Rite then, I feel pity about him dan terus melanjutkan membaca artikelnya. That's when he said,
"Saya juga pernah membuat film "Mengaku Rasul" dengan plot yang rumit dan akhirnya gagal di pasaran, dan akhirnya produser kehilangan sekian rupiah yang menjadi beban moral buat saya. Sayang juga kalau industri ini malah mati lagi, pasti akan banyak tenaga kerja yang terbuang. Saya yakin ke depannya pasti ada jalan yang terbaik untuk industri film secara utuh"

Aku mengango.
"Mengaku Rasul"? What kinda title is that? Baru ngebaca nya aja aku udah langsung ga tertarik mau nonton kalau pun ada. Seriously, can he think of any other story... title?? What has he been studying all this time in school??

And now he's planning to make a movie title "True Love" yang mengangkat tema cinta dari sudut pandang yang gelap. Awww c'mon.... Can you guys PLEASE make a normal movie?? What is it with mysteries these days??

I've watched many foreign movies, and they're all about comedy (no sex) and some are just about a group of girls. Tapi laku kok. Paling melenceng nya cuma di ciuman-ciuman (and sometimes it's more than just a Kiss) like duh, itu udah budaya mereka jadi ga masalah.

Kenapa Indonesia ga bikin cerita soal budaya Indonesia aja?
Adatnya atau pengaruh Globalisasi terhadap adatnya... It's interesting dan kurasa budget nya juga ga banyak, secara adat pada umumnya tidak memakai teknologi mahal dan lokasinya juga di open field. Of course, contoh yang aku cantumkan di sini agak terlalu berat untuk di konsumsi masyarakat. Tapi bisa kan stidaknya bikin film yang ada unsur "Keindahan Indonesia" walupun cuma secuil aja. It'll be mooooree INDONESIAN like!!

Film horor Indonesia bagiku malah memperjelek nama Indonesia aja. Dan tidak ada unsur kebudayaan asli Indonesia sama sekali.

Kalau orang Amerika -or who ever it is out there- bisa mempromosikan budaya mereka melalui film, kenapa Indonesia tidak??

Sunday, February 28, 2010

How I got MY treat

Aku baru aja baca salah satu post di blog Gby dan aku langsung merenung.

Aku tipe orang yang jarang bawa uang jajan ke sekolah. Aku lebih prefer bawa bekal (biasanya roti meses)! Tapi karena aku sering bangun telat akhir-akhir ini dan suka lupa mau bawa bekal, how did I survive 8 and an half hour of learning in high school?

I'm just lucky I guess.

Kalo di blog Gby dia dapat uang jajan dari teman terdekatnya, I on the other hand often receive money from anyone.
Anyone.

Kayak misalnya 3-4 hari yang lalu di skolah. Selesai TO, aku, nasita, & Ami duduk-duduk seperti biasa di depan kelas. Waktu lagi asyik menggosip tiba-tiba Kiki datang out of nowhere!
"Wan, ke kantin jujur yuk."
Aku langsung heran gitu, ngeliat kantin jaraknya dekat amat ama Matem 3 kenapa dia ga jalan aja sndiri.
Jadinya aku malah melontarkan candaan ala Wanda "Jajanin aku ya!"
Eh nyata-nyatanya Kiki malah jawab "Iya iya, tenang ajalah."
Bakwan sebiji terbabat langsung.

Ato hari sebelumnya lagi.
Cewek-cewek kelas aku lagi pada ngumpul di lorong, duduk-duduk, sambil menggosip & makan-makan. Ada yang makan donat, petak, krupuk.. except for me.
Keroncongan aku langsung ngeliat smuanya pada asyik makan.
Dengan tidak tau malu, aku terang-terangan aja curhat ke smua yang ada di situ.
"Enak ya makan-makan.. Aku jadi lapar ngeliat kalian. Ga bawa duit.."
Tidak digubris.
Jadi kutatap sajalah Desi yang duduk tepat di depanku. Lalu dengan sok polosnya bertanya, "Emang enak ya donatnya des?"
Desi yang lagi asik makan donat langsung menawarkan, "Nih cobalah Wan,"
Dengan senang hati kugigit. Dikit aja.
"Lho cuma segini? Makan lah lagi wan."
"Ga ah kasian desi.." aku kan masih tau diri.
"Eh Wan," Windary yang duduk di samping Desi tiba2 menyambung, "Belikan aku petak lah, nih 2000. 1000 nya buat kau jajan. Kasian aku liat kau!"
"OKE WIN!!!"
Traktiran membuatku rela disuruh-suruh.

Dan ada juga satu kali aku duduk2 di depan kelas Bahasa Indonesia. Aku dan Riyan mengapit Ami yang lagi buka-buka internet dari VAIO nya.
It was so much fun, sampe akhirnya aku ngeliat BP lewat dengan kantong baju yang dipenuhi Chocolatos.
"Maaaauuuu"
BP yang perangainya seperti cewek mengkek kelas 1 SD malah menjulurkan lidahnya. Aku sama sekali ga butuh penghinaan ini, yang kuinginkan hanya Chocolatos!
Akhirnya karena aku ga dapat chocolatosnya, aku memutuskan untuk menyebut-menyebut namanya saja sampe aku bosan.
"Chocolatos.. Chocolatos.. Chocolatos.." seakan chocolatos bisa jatuh dari langit.
"Kau pengen kali chocolatos wan?" tanya Riyan.
"Iyaaaa yan, lapar kali. BP jelek tuh makan di depan aku pulak."
Kemudian Riyan merogoh kantongnya, mengeluarkan uang 2000 dari dompetnya.
"Belikan juga buat aku ya!" pinta Riyan sambil menyodorkan uang itu kepadaku.
Aku yang sangat tidak tau diri malah menyahut "BUAT AKU DUA YA!!"
"Suit yourself."

Dan ada juga satu kali aku, nasita, ami dijajanin Kiki di kantin Jujur cuma karena kita nemenin dia ke kantin (Parahnya masing-masing kami beli 2 gorengan). Satu kali juga, aku ngemis uang 1000 ke Yaumil buat beli Chocolatos. Dia kasih karena aku pernah ngasih dia 1000 buat beli AQUA gelas.

Intinya ya, aku ini orang beruntung yang tak tau malu dan sangat rakus, tapi sebenarnya baik. No wonder I got so many treat.

Saturday, February 27, 2010

Off from Jakarta, Back to Pekanbaru

I was too busy looking for a nice BTemplate I almost forgot that I wanted to post something. Better write it before it's too late. It's almost 11 PM.

So. February 27th.
It's only been 2 days since I left Pekanbaru. It's only been 2 days since I first saw Jaga living in my Brother's house in Ubud. It's only been a day since I went to Benhil to spend some time at my Grandpa's house, to play with the dogs -since my grandpa isn't living there any longer- and my sister, of course. It's only been a day since I got so addicted to Rush Hour, the board game Jeff introduced to me. It's only been a day since I attended my Aunt's 25th Wedding Anniversary -and didn't get any seat. Great. Well it's not like I wanted some veto. Maybe just a bit- looking out for the best meal there is. It's only been hours ago since I spent some time walking at the Mall with my family. It's only been hours ago since we joked about Nia Ramadhani's "Rich Boy Radar" -heard she's got the most luxurious wedding ever- in the car.
And it's only been hours ago since I took off from Terminal 3.
Went back home to Pekanbaru.

Home?
Is it really MY home?
As soon as I get here another piece of me is missing again. Like it did before. I really miss my brother and sister. A LOT.

But anyhow, I'm here now.
Yeah. I'm here now.

I really want to pass the exams as quick as possible. Just so I could get back to Jakarta.
Was that thought selfish or what?

Sure it was.
I mean, it's not like I'm really lonely here. I've got my parents, Ety, John, my dogs, and.. Esther the Hamster.
YEAH, I mean, with 4 living people and 3 walking animals in a small house, how could I possibly call myself "Lonely"?

I really need to call my boyfriend right now.

Tuesday, February 09, 2010

Dear God

I have done what I can
And I'm thankful to remember that I'm doing this for You alone
I am small
but you made me greater
I am weak, but you make me stronger
I can never be of thirst

Dear God,
What I've done is nothing compare to what You've given to all of us
To me
I give only advice
But let this not be a waste.
I am not perfect
But You are
So please hear my little prayer..

Bring salvation,
Let them hear,
I love them and they deserve a place in your kingdom,
Please let this little voice, I have relive them
Wake them from their sleep, let them see the truth
That salvation only comes from You